Seiring
berlalunya hari dan semakin bertambahnya usiaku, sekarang umurku memasuki tahun
ke 20. Saya baru saja mengundurkan diri dari sekolah beberapa minggu yang lalu
karena sebuah penyakit yang mengharuskanku untuk beristirahat lama.
Hingga tiba
hari ini dipenghujung bulan Januari, seorang laki-laki sholeh datang
meminangku. Sebelumnya dia sudah menghubungiku melalui telpon, untuk menyatakan
niat baiknya. Dan barulah hari ini dia berbicara dengan ibuku sebagai bentuk
keseriusannya. Ibu menerima baik, sangat baik malah, hanya saja beliau
memberitahu bahwa hal ini belum tentu diterima secara mudah oleh Bapak.
Saya anggap,
bahwa disinilah saya dan keluarga butuh perjuangan dalam membujuk Bapak. Bapak yang
menurutku masih kurang paham tentang nilai-nilai agama, Bapak yang menganggap
bahwa alumni Pesantren itu memiliki masa depan yang kurang bersinar, Bapak yang
–mungkin– masih terbawa dengan pikiran materialistis. Dan betullah, begitu ibu
menceritakan perihal lamaran itu keBapak, beliau serta merta menolak. Ibu
berkali-kali memahamkan tapi sebanyak itu pula Bapak menolak. Alasannya terlalu
banyak, mulai karena laki-laki itu lulusan Pesantren yang anggapannya tidak
mempunyai pekerjaan yang memadai, mahar yang dianggapnya terlalu rendah dari
kebiasaan suku kami, sampai alasan bahwa laki-laki itu berdomisili jauh dari
tempat domisili kita.
Satu persatu,
Ibu mematahkan alasan Bapak dengan baik, berharap bapak mengubah pendiriannya.
Ibu bilang, tidak semua lulusan pesantren itu tidak memiliki masa depan yang
memadai. Mungkin saja bapak melihat mereka di tahun pertama mereka, yaitu di
masa wiyatabakti. Sehingga potensi yang dimiliki para alumni belum nampak
terlihat. Dan mungkin bapak lupa dengan janji Allah berupa rizki yang tidak
disangka-sangka yang disediakan untuk hamba bertaqwa. Untuk mahar yang rendah,
ibu menyalahkan bapak karena lebih mendahului adat dari pada agama. Karena
sudah barang tentu Allah tidak memuliakan pernikahan karena sebab mahar yang
tinggi. Melainkan kemuliaan itu bisa diraih manakala kita mendahului syariat
dari pada adat. Dan untuk alasan yang terakhir, mungkin bapak lupa, kalau ibu
dari anak-anaknya adalah perempuan keturunan Jawa.
Bapak masih
kuat dengan pendirian yang dipegangnya. Tidak tahu dengan alasan apalagi supaya
lamaran laki-laki itu diterima. Saya mulai melibatkan adikku untuk ikut merayu
bapak. Selain karena dia lebih dekat dengan beliau, juga karena aku anggap
diumur 17 tahunnya dia sudah cukup tahu tentang pernikahan. Jadi bisa lebih mudah
menjelaskan urusan pelik ini ke Bapak. Awalnya, adikku hanya bilang “kenapa
harus dipaksain sih, kak? Kalau bapak tidak setuju, mungkin Allah punya jodoh
lain yang sudah disiapkan-Nya.” Mungkin ada benarnya, ah, saya pikir Allah
masih mau melihat usahaku. Saya tekan kembali adikku supaya dia mau mengajak
bapak untuk bicara. Harapannya bapak berubah pikiran atau setidaknya mulai
melunak dari pikiran awal.
Sejujurnya,
saat adikku mengatakan kalimat di atas, saya ingin menangis. Saya anggap
laki-laki itu adalah sosok yang terlalu sayang jika diabaikan. Saya mengenal
dia dan keluarganya. Adiknya bahkan teman satu sekolahku dulu. Sehingga kadang
saat waktu liburan tiba, saya diajak berkunjung di rumahnya. Atau sekali dua
kali, orang tuanya membawakanku jajanan kalau datang ke Boarding untuk
menjenguk. Sekilas tentang laki-laki itu saya ketahui tatkala oleh kakekku, dia
diamanahi mengurus kepindahanku dari sekolah sebelumnya. Dia harus menunggu bis
yang kutumpangi di terminal. Saat saya harus transit dulu di rumahnya, Demi
Allah dia tidak menawari motornya untuk memboncengku. Dia hanya membawakan
barang-barangku, kemudian setelah memberi alamat, dia menyuruhku naik bis,
sedang dia mengikut di belakang. Saya anggap itu sudah lebih dari cukup untuk
memperlihatkan kejujuran hatinya.
Adikku
akhirnya mau mengajak bapak berbicara. Beberapa kali mendengar dia mengatakan
masa depan ke bapak. Adikku meyakinkan,
kalau hari esok itu hanya Allah yang tahu keadaannya. Kalau bapak tidak bisa
berharap banyak dari pernikahan kakak sekarang, biar saya yang kelak
menyejahterakan ibu, bapak dan semua adik-adikku. Kulihat kesungguhan adikku
dalam menolongku, hingga air matanya terjatuh begitu saja.
Akhirnya bapak
sudah mulai mempakkan sikap menerimanya. Meski baru sedikit. Dan setelah saya
dan ibu kembali berbicara, barulah bapak menerima sepenuhnya. Proses-proses
berikutnya pun mulai diatur. Jumlah mahar dipastikan dan bapak tidak
mengeluarkan komentar apapun dalam hal ini. Kemudian nadhor, dilanjutkan dengan
penetapan waktu walimatul ursy-nya, yang saat itu disepakati akhir bulan
Februari.
Singkatnya,
aku dan laki-laki itu sekarang sudah resmi menikah. Alhamdulillah, hingga saat
ini, tidak ada percekcokan berarti antara ayah dan keluarga baruku. Hari-hari
berlalu dan kulihat bapak senag-senang saja dengan kehadiran suamiku. Bahkan
dari raut wajahnya bisa kutebak jika beliau juga merasa beruntung mendapat
menantu sebaik dia. Kadang beliau tanpa sengaja memujinya di depan ibu, atau
bila merasa butuh beliau meminta bantuan darinya. Hingga saat ini saya sudah
memiliki anak perempuan yang lucu. Kesenangan bapak berkali-kali lipat
dibuatnya. Aku bersyukur memuji Asma Allah…
Yang
menjadi komitmenku sekarang, bagaimana saya mampu mengikat suamiku dengan
kebahagiaan. Karena jika kulihat usahaku untuk mendapatkannya, tentu tidak bisa
dikatakan mudah. Dan pun seandainya usahaku dulu terbilang mudah saya juga
tetap harus menjadi istri yang shalihah, saya wakilkan permintaan maaf bapak
padamu dari kesalahan-kesalahan masa lalunya yang mungkin menunda pertemuan
kita dulu. Dan untuk kesalahan-kesalahan bapak masa kini, maafkanlah, karena
bagaimanapun sekarang beliau adalah Bapak Kakanda juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar