Kamis, 12 Maret 2015

Pertemuan Kita, Yang Dulu Tertunda

Seiring berlalunya hari dan semakin bertambahnya usiaku, sekarang umurku memasuki tahun ke 20. Saya baru saja mengundurkan diri dari sekolah beberapa minggu yang lalu karena sebuah penyakit yang mengharuskanku untuk beristirahat lama.
Hingga tiba hari ini dipenghujung bulan Januari, seorang laki-laki sholeh datang meminangku. Sebelumnya dia sudah menghubungiku melalui telpon, untuk menyatakan niat baiknya. Dan barulah hari ini dia berbicara dengan ibuku sebagai bentuk keseriusannya. Ibu menerima baik, sangat baik malah, hanya saja beliau memberitahu bahwa hal ini belum tentu diterima secara mudah oleh Bapak.
Saya anggap, bahwa disinilah saya dan keluarga butuh perjuangan dalam membujuk Bapak. Bapak yang menurutku masih kurang paham tentang nilai-nilai agama, Bapak yang menganggap bahwa alumni Pesantren itu memiliki masa depan yang kurang bersinar, Bapak yang –mungkin– masih terbawa dengan pikiran materialistis. Dan betullah, begitu ibu menceritakan perihal lamaran itu keBapak, beliau serta merta menolak. Ibu berkali-kali memahamkan tapi sebanyak itu pula Bapak menolak. Alasannya terlalu banyak, mulai karena laki-laki itu lulusan Pesantren yang anggapannya tidak mempunyai pekerjaan yang memadai, mahar yang dianggapnya terlalu rendah dari kebiasaan suku kami, sampai alasan bahwa laki-laki itu berdomisili jauh dari tempat domisili kita.
Satu persatu, Ibu mematahkan alasan Bapak dengan baik, berharap bapak mengubah pendiriannya. Ibu bilang, tidak semua lulusan pesantren itu tidak memiliki masa depan yang memadai. Mungkin saja bapak melihat mereka di tahun pertama mereka, yaitu di masa wiyatabakti. Sehingga potensi yang dimiliki para alumni belum nampak terlihat. Dan mungkin bapak lupa dengan janji Allah berupa rizki yang tidak disangka-sangka yang disediakan untuk hamba bertaqwa. Untuk mahar yang rendah, ibu menyalahkan bapak karena lebih mendahului adat dari pada agama. Karena sudah barang tentu Allah tidak memuliakan pernikahan karena sebab mahar yang tinggi. Melainkan kemuliaan itu bisa diraih manakala kita mendahului syariat dari pada adat. Dan untuk alasan yang terakhir, mungkin bapak lupa, kalau ibu dari anak-anaknya adalah perempuan keturunan Jawa.
Bapak masih kuat dengan pendirian yang dipegangnya. Tidak tahu dengan alasan apalagi supaya lamaran laki-laki itu diterima. Saya mulai melibatkan adikku untuk ikut merayu bapak. Selain karena dia lebih dekat dengan beliau, juga karena aku anggap diumur 17 tahunnya dia sudah cukup tahu tentang pernikahan. Jadi bisa lebih mudah menjelaskan urusan pelik ini ke Bapak. Awalnya, adikku hanya bilang “kenapa harus dipaksain sih, kak? Kalau bapak tidak setuju, mungkin Allah punya jodoh lain yang sudah disiapkan-Nya.” Mungkin ada benarnya, ah, saya pikir Allah masih mau melihat usahaku. Saya tekan kembali adikku supaya dia mau mengajak bapak untuk bicara. Harapannya bapak berubah pikiran atau setidaknya mulai melunak dari pikiran awal.
Sejujurnya, saat adikku mengatakan kalimat di atas, saya ingin menangis. Saya anggap laki-laki itu adalah sosok yang terlalu sayang jika diabaikan. Saya mengenal dia dan keluarganya. Adiknya bahkan teman satu sekolahku dulu. Sehingga kadang saat waktu liburan tiba, saya diajak berkunjung di rumahnya. Atau sekali dua kali, orang tuanya membawakanku jajanan kalau datang ke Boarding untuk menjenguk. Sekilas tentang laki-laki itu saya ketahui tatkala oleh kakekku, dia diamanahi mengurus kepindahanku dari sekolah sebelumnya. Dia harus menunggu bis yang kutumpangi di terminal. Saat saya harus transit dulu di rumahnya, Demi Allah dia tidak menawari motornya untuk memboncengku. Dia hanya membawakan barang-barangku, kemudian setelah memberi alamat, dia menyuruhku naik bis, sedang dia mengikut di belakang. Saya anggap itu sudah lebih dari cukup untuk memperlihatkan kejujuran hatinya.
Adikku akhirnya mau mengajak bapak berbicara. Beberapa kali mendengar dia mengatakan masa depan ke bapak.  Adikku meyakinkan, kalau hari esok itu hanya Allah yang tahu keadaannya. Kalau bapak tidak bisa berharap banyak dari pernikahan kakak sekarang, biar saya yang kelak menyejahterakan ibu, bapak dan semua adik-adikku. Kulihat kesungguhan adikku dalam menolongku, hingga air matanya terjatuh begitu saja.
Akhirnya bapak sudah mulai mempakkan sikap menerimanya. Meski baru sedikit. Dan setelah saya dan ibu kembali berbicara, barulah bapak menerima sepenuhnya. Proses-proses berikutnya pun mulai diatur. Jumlah mahar dipastikan dan bapak tidak mengeluarkan komentar apapun dalam hal ini. Kemudian nadhor, dilanjutkan dengan penetapan waktu walimatul ursy-nya, yang saat itu disepakati akhir bulan Februari.
Singkatnya, aku dan laki-laki itu sekarang sudah resmi menikah. Alhamdulillah, hingga saat ini, tidak ada percekcokan berarti antara ayah dan keluarga baruku. Hari-hari berlalu dan kulihat bapak senag-senang saja dengan kehadiran suamiku. Bahkan dari raut wajahnya bisa kutebak jika beliau juga merasa beruntung mendapat menantu sebaik dia. Kadang beliau tanpa sengaja memujinya di depan ibu, atau bila merasa butuh beliau meminta bantuan darinya. Hingga saat ini saya sudah memiliki anak perempuan yang lucu. Kesenangan bapak berkali-kali lipat dibuatnya. Aku bersyukur memuji Asma Allah…
Yang menjadi komitmenku sekarang, bagaimana saya mampu mengikat suamiku dengan kebahagiaan. Karena jika kulihat usahaku untuk mendapatkannya, tentu tidak bisa dikatakan mudah. Dan pun seandainya usahaku dulu terbilang mudah saya juga tetap harus menjadi istri yang shalihah, saya wakilkan permintaan maaf bapak padamu dari kesalahan-kesalahan masa lalunya yang mungkin menunda pertemuan kita dulu. Dan untuk kesalahan-kesalahan bapak masa kini, maafkanlah, karena bagaimanapun sekarang beliau adalah Bapak Kakanda juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar