Kamis, 12 Maret 2015

REMAH-REMAH KEBAHAGIAAN (Bagian kedua dari cerita “Bukan Lelaki Bermata Bintang”)

Kebahagiaan menyertaiku. Rasa syukurku berlapis-lapis. Ketenangan menyeruak dari jiwaku yang sebelumnya dikerdilkan rasa khawatir. Bagiamana tidak, rasa takut kalau diingatkan kembali olehnya setelah berlalu empat tahun aku menyelesaikan masa belajarku, sekarang sudah raib. Aku memuji-Nya atas semua skenario kehidupan yang tak pernah aku duga.
Aku yakin, perempuan itu jauh lebih bahagia dariku. Bunga-bunga keindahan yang ia rasakan jatuh dimana-mana. Bayangkan saja, setelah sekian lama ia menunggu di ruang penantian, bersama sepi dan berselimut rasa dingin, masa itu akhirnya datang. Kini ia tak lagi sendiri karna sudah hadir jari-jari kokoh yang mengisi renggangan diantara lima jemarinya. Rasa dingin sudah jauh pergi, karena sudah ada lelaki yang merangkulnya dengan penuh perlindungan.
Hari-hari berganti seperti biasanya. Sebanyak pergantian itu pula ruas hatiku kian terisi dengan ketentraman. Impian-impian masa depanku aku rancang sebaik mungkin tanpa ada cemas. Sedang dipijakan bumi lain entah sudah setinggi apa kebahagiaan yang perempuan itu rasakan. Sepertinya aku sudah cukup apatis untuk tidak memikirkannya lagi.
Namun sayangnya….
Hari yang sama sekali tak diharapkan, datang menghampiri. Terlalu lama kalau aku mau berhitung belasan minggu ketika suka cita itu tercrabut. Aku yang menerima kabarnya, terhenyak kaget, secepat itukah perempuan itu dalam mencicipi manisnya mahligai rumah tangga? Kemudian kembali dalam ruang kosong nan gelap? Oh ya, aku lupa, bukankah kita harus senantiasa berbaik sangka pada yang menciptakan sangkaan itu sendiri? Aku berharap disaat seperti itu, perempuan itu bisa berbaik sangka dan menghadirkan ketegaran dalam dirinya.
Saat aku mendengar ceritanya, aku bisa merasakan masa indah miliknya terbang pergi bersama embun subuh yang tersiram cahaya mentari. Kebersamaan yang dinanti sejak lama, memang datang tapi hanya sebentar, karena dia harus terenggut kembali. Lelaki sholeh, suami perempuan malang itu baru saja pulang dari sholat subuhnya. Seharusnya dia pulang ke rumah seperti yang diharapkan istrinya. Tapi bagaimana kalau Allah berkehendak lelaki itu pulang untuk menghadap-Nya? Saat berjalan pulang, sebuah mobil menabraknya dari belakang. Innalillah, kejadian itu cepat sekali. Secepat perubahan yang terjadi pada satu menit berikutnya. Aku seolah dapat menerawang tragedi naas itu.  Putaran roda yang akhirnya membuat dua anak menjadi kehilangan Ayah. Dan tak sampai disitu, seorang perempuan lagi ditinggal dengan perubahan statusnya yang perih bersama linangan air mata kedukaan.
Berlalu lagi hari, sejak tragedi subuh kelabu. Aku kembali menerima kabar akan perempuan itu. Aku bersyukur ia benar-benar menghadirkan ketegaran dalam dirinya. Dalam kesendiriannya ia mengolah diri. Perempuan itu memulainya dengan membuka Counter Herbal. Menenggelamkan dirinya bersama rutinitas yang padat. Yang hanya ia tinggalkan bila ada jadwal majlis taklim yang harus dia hadiri. Itu satu hal yang menggembirakan. Setidaknya bagi diriku sendiri. Aku tidak berharap apa-apa. Demi Allah, bukankah aku sudah sampaikan sebelumnya, kalau aku bahkan belum siap jika kelak dia akan menjadi ratu diistanaku dan ibu bagi anak-anakku? Aku serahkan semua urusanku pada Allah Yang Maha Memegang segala urusan.
Tiba pada suatu waktu, aku harus menghabiskan liburan panjang Ramadhan di kampung halamanku. Dua tahun belajar di tempat rantau tetap saja mengharuskanku untuk pulang. Aku maklum, ikatan rindu ibu sudah kian menguat. Aku pulang, yang itu artinya aku juga akan bertemu dengan perempuan itu lagi. Rumah kami hanya dipisahkan lima rumah tetangga.
Betullah, selang beberapa hari aku di rumah, aku disuruh ibu menjemput adik di rumah paman, tempat perempuan itu tinggal. Dan saat perempuan itu tahu kalau aku sedang berada di depan rumahnya, dari dalam rumah dengan nada bercanda dia menyeru. “Benarkah yang di depan rumah, Whildan? Aku ingin melihatnya setelah dua tahun tidak bertemu.” Aku anggap biasa kalau dia bercanda demikian, karena memang, toh selama ini aku dikenal sebagai remaja yang humoris. Untuk menjawab canda itu aku juga membalasnya dengan candaan, “Iya, tante, keluarlah dan lihat aku, sebelum aku kembali pergi.”
Betapa kagetnya aku saat ia keluar, ternyata selama ini tidak salah kalau aku mendengar ia banyak perubahan, bahkan sekarang aku bisa melihat dia yang menutup wajahnya dengan kain cadar. Aku mengulum senyum, yang entah, dia membalasnya atau tidak. Setelah dia melihatku dengan memberi sedikit komentar, dia berpaling kemudian meninggalkanku. Aku kembali bergumam, betapa ketegaran telah membawanya menjadi lebih baik. Menjadi wanita sholehah.



Ø  Beberapa hikmah dari cerita di atas;
1.      Perlunya kita menghadirkan rasa empati sebagai bentuk kepedulian kita pada sesama, menghapus individualisme dan sifat egois adalah saran yang bijak untuk mau melihat ujian hidup yang orang lain rasakan.
2.      Kehidupan kita tak pernah terpisah dari hal yang kita benci untuk terjadi, namun kita harus yakin, boleh jadi sesuatu yang tidak kita senangi justru baik bagi kita, dan boleh jadi sesuatu yang kita senangi justru buruk bagi kita.
3.      Sebesar apapun cobaan yang Allah “hadiahkan”, kita harus memiliki kekuatan yang lebih besar untuk sabar dan tegas. Bangkit dari keterpurukan adalah pilihan mutlak yang tak boleh kita tunda dari melakukannya.


Pertemuan Kita, Yang Dulu Tertunda

Seiring berlalunya hari dan semakin bertambahnya usiaku, sekarang umurku memasuki tahun ke 20. Saya baru saja mengundurkan diri dari sekolah beberapa minggu yang lalu karena sebuah penyakit yang mengharuskanku untuk beristirahat lama.
Hingga tiba hari ini dipenghujung bulan Januari, seorang laki-laki sholeh datang meminangku. Sebelumnya dia sudah menghubungiku melalui telpon, untuk menyatakan niat baiknya. Dan barulah hari ini dia berbicara dengan ibuku sebagai bentuk keseriusannya. Ibu menerima baik, sangat baik malah, hanya saja beliau memberitahu bahwa hal ini belum tentu diterima secara mudah oleh Bapak.
Saya anggap, bahwa disinilah saya dan keluarga butuh perjuangan dalam membujuk Bapak. Bapak yang menurutku masih kurang paham tentang nilai-nilai agama, Bapak yang menganggap bahwa alumni Pesantren itu memiliki masa depan yang kurang bersinar, Bapak yang –mungkin– masih terbawa dengan pikiran materialistis. Dan betullah, begitu ibu menceritakan perihal lamaran itu keBapak, beliau serta merta menolak. Ibu berkali-kali memahamkan tapi sebanyak itu pula Bapak menolak. Alasannya terlalu banyak, mulai karena laki-laki itu lulusan Pesantren yang anggapannya tidak mempunyai pekerjaan yang memadai, mahar yang dianggapnya terlalu rendah dari kebiasaan suku kami, sampai alasan bahwa laki-laki itu berdomisili jauh dari tempat domisili kita.
Satu persatu, Ibu mematahkan alasan Bapak dengan baik, berharap bapak mengubah pendiriannya. Ibu bilang, tidak semua lulusan pesantren itu tidak memiliki masa depan yang memadai. Mungkin saja bapak melihat mereka di tahun pertama mereka, yaitu di masa wiyatabakti. Sehingga potensi yang dimiliki para alumni belum nampak terlihat. Dan mungkin bapak lupa dengan janji Allah berupa rizki yang tidak disangka-sangka yang disediakan untuk hamba bertaqwa. Untuk mahar yang rendah, ibu menyalahkan bapak karena lebih mendahului adat dari pada agama. Karena sudah barang tentu Allah tidak memuliakan pernikahan karena sebab mahar yang tinggi. Melainkan kemuliaan itu bisa diraih manakala kita mendahului syariat dari pada adat. Dan untuk alasan yang terakhir, mungkin bapak lupa, kalau ibu dari anak-anaknya adalah perempuan keturunan Jawa.
Bapak masih kuat dengan pendirian yang dipegangnya. Tidak tahu dengan alasan apalagi supaya lamaran laki-laki itu diterima. Saya mulai melibatkan adikku untuk ikut merayu bapak. Selain karena dia lebih dekat dengan beliau, juga karena aku anggap diumur 17 tahunnya dia sudah cukup tahu tentang pernikahan. Jadi bisa lebih mudah menjelaskan urusan pelik ini ke Bapak. Awalnya, adikku hanya bilang “kenapa harus dipaksain sih, kak? Kalau bapak tidak setuju, mungkin Allah punya jodoh lain yang sudah disiapkan-Nya.” Mungkin ada benarnya, ah, saya pikir Allah masih mau melihat usahaku. Saya tekan kembali adikku supaya dia mau mengajak bapak untuk bicara. Harapannya bapak berubah pikiran atau setidaknya mulai melunak dari pikiran awal.
Sejujurnya, saat adikku mengatakan kalimat di atas, saya ingin menangis. Saya anggap laki-laki itu adalah sosok yang terlalu sayang jika diabaikan. Saya mengenal dia dan keluarganya. Adiknya bahkan teman satu sekolahku dulu. Sehingga kadang saat waktu liburan tiba, saya diajak berkunjung di rumahnya. Atau sekali dua kali, orang tuanya membawakanku jajanan kalau datang ke Boarding untuk menjenguk. Sekilas tentang laki-laki itu saya ketahui tatkala oleh kakekku, dia diamanahi mengurus kepindahanku dari sekolah sebelumnya. Dia harus menunggu bis yang kutumpangi di terminal. Saat saya harus transit dulu di rumahnya, Demi Allah dia tidak menawari motornya untuk memboncengku. Dia hanya membawakan barang-barangku, kemudian setelah memberi alamat, dia menyuruhku naik bis, sedang dia mengikut di belakang. Saya anggap itu sudah lebih dari cukup untuk memperlihatkan kejujuran hatinya.
Adikku akhirnya mau mengajak bapak berbicara. Beberapa kali mendengar dia mengatakan masa depan ke bapak.  Adikku meyakinkan, kalau hari esok itu hanya Allah yang tahu keadaannya. Kalau bapak tidak bisa berharap banyak dari pernikahan kakak sekarang, biar saya yang kelak menyejahterakan ibu, bapak dan semua adik-adikku. Kulihat kesungguhan adikku dalam menolongku, hingga air matanya terjatuh begitu saja.
Akhirnya bapak sudah mulai mempakkan sikap menerimanya. Meski baru sedikit. Dan setelah saya dan ibu kembali berbicara, barulah bapak menerima sepenuhnya. Proses-proses berikutnya pun mulai diatur. Jumlah mahar dipastikan dan bapak tidak mengeluarkan komentar apapun dalam hal ini. Kemudian nadhor, dilanjutkan dengan penetapan waktu walimatul ursy-nya, yang saat itu disepakati akhir bulan Februari.
Singkatnya, aku dan laki-laki itu sekarang sudah resmi menikah. Alhamdulillah, hingga saat ini, tidak ada percekcokan berarti antara ayah dan keluarga baruku. Hari-hari berlalu dan kulihat bapak senag-senang saja dengan kehadiran suamiku. Bahkan dari raut wajahnya bisa kutebak jika beliau juga merasa beruntung mendapat menantu sebaik dia. Kadang beliau tanpa sengaja memujinya di depan ibu, atau bila merasa butuh beliau meminta bantuan darinya. Hingga saat ini saya sudah memiliki anak perempuan yang lucu. Kesenangan bapak berkali-kali lipat dibuatnya. Aku bersyukur memuji Asma Allah…
Yang menjadi komitmenku sekarang, bagaimana saya mampu mengikat suamiku dengan kebahagiaan. Karena jika kulihat usahaku untuk mendapatkannya, tentu tidak bisa dikatakan mudah. Dan pun seandainya usahaku dulu terbilang mudah saya juga tetap harus menjadi istri yang shalihah, saya wakilkan permintaan maaf bapak padamu dari kesalahan-kesalahan masa lalunya yang mungkin menunda pertemuan kita dulu. Dan untuk kesalahan-kesalahan bapak masa kini, maafkanlah, karena bagaimanapun sekarang beliau adalah Bapak Kakanda juga.