Kebahagiaan menyertaiku. Rasa
syukurku berlapis-lapis. Ketenangan menyeruak dari jiwaku yang sebelumnya
dikerdilkan rasa khawatir. Bagiamana tidak, rasa takut kalau diingatkan kembali
olehnya setelah berlalu empat tahun aku menyelesaikan masa belajarku, sekarang
sudah raib. Aku memuji-Nya atas semua skenario kehidupan yang tak pernah aku
duga.
Aku yakin, perempuan itu jauh
lebih bahagia dariku. Bunga-bunga keindahan yang ia rasakan jatuh dimana-mana.
Bayangkan saja, setelah sekian lama ia menunggu di ruang penantian, bersama
sepi dan berselimut rasa dingin, masa itu akhirnya datang. Kini ia tak lagi
sendiri karna sudah hadir jari-jari kokoh yang mengisi renggangan diantara lima
jemarinya. Rasa dingin sudah jauh pergi, karena sudah ada lelaki yang
merangkulnya dengan penuh perlindungan.
Hari-hari berganti seperti
biasanya. Sebanyak pergantian itu pula ruas hatiku kian terisi dengan
ketentraman. Impian-impian masa depanku aku rancang sebaik mungkin tanpa ada
cemas. Sedang dipijakan bumi lain entah sudah setinggi apa kebahagiaan yang
perempuan itu rasakan. Sepertinya aku sudah cukup apatis untuk tidak
memikirkannya lagi.
Namun sayangnya….
Hari yang sama sekali tak
diharapkan, datang menghampiri. Terlalu lama kalau aku mau berhitung belasan
minggu ketika suka cita itu tercrabut. Aku yang menerima kabarnya, terhenyak
kaget, secepat itukah perempuan itu dalam mencicipi manisnya mahligai rumah
tangga? Kemudian kembali dalam ruang kosong nan gelap? Oh ya, aku lupa, bukankah
kita harus senantiasa berbaik sangka pada yang menciptakan sangkaan itu
sendiri? Aku berharap disaat seperti itu, perempuan itu bisa berbaik sangka dan
menghadirkan ketegaran dalam dirinya.
Saat aku mendengar ceritanya,
aku bisa merasakan masa indah miliknya terbang pergi bersama embun subuh yang
tersiram cahaya mentari. Kebersamaan yang dinanti sejak lama, memang datang
tapi hanya sebentar, karena dia harus terenggut kembali. Lelaki sholeh, suami
perempuan malang itu baru saja pulang dari sholat subuhnya. Seharusnya dia
pulang ke rumah seperti yang diharapkan istrinya. Tapi bagaimana kalau Allah
berkehendak lelaki itu pulang untuk menghadap-Nya? Saat berjalan pulang, sebuah
mobil menabraknya dari belakang. Innalillah, kejadian itu cepat sekali. Secepat
perubahan yang terjadi pada satu menit berikutnya. Aku seolah dapat menerawang
tragedi naas itu. Putaran roda yang
akhirnya membuat dua anak menjadi kehilangan Ayah. Dan tak sampai disitu,
seorang perempuan lagi ditinggal dengan perubahan statusnya yang perih bersama
linangan air mata kedukaan.
Berlalu lagi hari, sejak tragedi
subuh kelabu. Aku kembali menerima kabar akan perempuan itu. Aku bersyukur ia
benar-benar menghadirkan ketegaran dalam dirinya. Dalam kesendiriannya ia
mengolah diri. Perempuan itu memulainya dengan membuka Counter Herbal.
Menenggelamkan dirinya bersama rutinitas yang padat. Yang hanya ia tinggalkan
bila ada jadwal majlis taklim yang harus dia hadiri. Itu satu hal yang
menggembirakan. Setidaknya bagi diriku sendiri. Aku tidak berharap apa-apa.
Demi Allah, bukankah aku sudah sampaikan sebelumnya, kalau aku bahkan belum
siap jika kelak dia akan menjadi ratu diistanaku dan ibu bagi anak-anakku? Aku
serahkan semua urusanku pada Allah Yang Maha Memegang segala urusan.
Tiba pada suatu waktu, aku harus
menghabiskan liburan panjang Ramadhan di kampung halamanku. Dua tahun belajar
di tempat rantau tetap saja mengharuskanku untuk pulang. Aku maklum, ikatan
rindu ibu sudah kian menguat. Aku pulang, yang itu artinya aku juga akan
bertemu dengan perempuan itu lagi. Rumah kami hanya dipisahkan lima rumah
tetangga.
Betullah, selang beberapa hari
aku di rumah, aku disuruh ibu menjemput adik di rumah paman, tempat perempuan
itu tinggal. Dan saat perempuan itu tahu kalau aku sedang berada di depan
rumahnya, dari dalam rumah dengan nada bercanda dia menyeru. “Benarkah yang di
depan rumah, Whildan? Aku ingin melihatnya setelah dua tahun tidak bertemu.”
Aku anggap biasa kalau dia bercanda demikian, karena memang, toh selama ini aku
dikenal sebagai remaja yang humoris. Untuk menjawab canda itu aku juga
membalasnya dengan candaan, “Iya, tante, keluarlah dan lihat aku, sebelum aku
kembali pergi.”
Betapa kagetnya aku saat ia
keluar, ternyata selama ini tidak salah kalau aku mendengar ia banyak
perubahan, bahkan sekarang aku bisa melihat dia yang menutup wajahnya dengan
kain cadar. Aku mengulum senyum, yang entah, dia membalasnya atau tidak.
Setelah dia melihatku dengan memberi sedikit komentar, dia berpaling kemudian
meninggalkanku. Aku kembali bergumam, betapa ketegaran telah membawanya menjadi
lebih baik. Menjadi wanita sholehah.
Ø
Beberapa hikmah dari cerita di atas;
1. Perlunya
kita menghadirkan rasa empati sebagai bentuk kepedulian kita pada sesama,
menghapus individualisme dan sifat egois adalah saran yang bijak untuk mau
melihat ujian hidup yang orang lain rasakan.
2. Kehidupan
kita tak pernah terpisah dari hal yang kita benci untuk terjadi, namun kita
harus yakin, boleh jadi sesuatu yang tidak kita senangi justru baik bagi kita,
dan boleh jadi sesuatu yang kita senangi justru buruk bagi kita.
3. Sebesar
apapun cobaan yang Allah “hadiahkan”, kita harus memiliki kekuatan yang
lebih besar untuk sabar dan tegas. Bangkit dari keterpurukan adalah pilihan
mutlak yang tak boleh kita tunda dari melakukannya.